Diterbitkan :
Kategori : Opini
Komentar : 0 komentar

Teks-teks kitab kuning yang dikarang oleh para ulama di Abad Pertengahan seperti karya-karya asy-Syafi’i, al-Ghazali, Ibn Arabi, dll itu ditulis di zaman manuskrip. Buku-buku mereka ditulis tangan oleh juru tulis profesional atau didiktekan secara lisan oleh penulisnya kepada murid-muridnya (walaupun kemudian diperiksa akurasinya oleh sang penulis). Maka, kita tak perlu heran bila sering terjadi variasi tekstual di antara naskah-naskah kitab tersebut. Apalagi bila penulisnya biasa mengedit dan merevisi buku-buku yang telah ia tulis. Al-Muwaththa’ karya Malik ibn Anas, misalnya, punya variasi tekstual seturut dengan penutur kitab tersebut: versi Spanyol yang dituturkan oleh Yahya ibn Yahya al-Laitsi dan versi Irak yang dituturkan oleh Muhammad ibn al-Hasan asy-Syaibani.

Sebagai pemburu buku, menurut saya, edisi kitab kuning yang baik itu adalah teks yang diedit secara kritis (critical edition) dan dilengkapi dengan textus apparatus: variasi bacaan yang dilampirkan dalam catatan kaki. Dengan begitu, para pembaca disodori sebuah teks yang ‘terbuka’, yang dapat ditafsirkan dengan pelbagai cara oleh kita. Sebagai contoh, karya asy-Syafi’i, al-Umm, yang layak direkomendasikan adalah yang diedit oleh Rif’at Fauzi ‘Abd al-Muththalib. Karya Ibn Arabi yang suntingannya bagus sekali adalah Fushush al-Hikam versinya Abu-l-‘Ala ‘Afifi dan al-Futuhat al-Makkiyyah hasil suntingan Osman Yahya (sayang edisi ini tak sampai tuntas karena editornya keburu meninggal sebelum menyelesaikan pekerjaannya). Dan yang bikin saya memberengut, satu-satunya karya al-Ghazali yang dilengkapi dengan textus apparatus adalah Tahafut al-Falasifah yang diedit oleh Maurice Bouyges. Dan sudah out of print pula!

#Muhammad Ma’mun (Sumber)

Comments

comments