Pondok pesantren tertua di Silo, kecamatan paling timur di kabupaten Jember, adalah Pondok Pesantren al-Falah. Lembaga pendidikan yang didirikan pada tahun 1938 ini dirintis oleh K.H. Muhammad Syamsul Arifin, salah seorang santri K.H. Abdullah as-Sajjad. Tokoh kelahiran dusun Penanggungan, Guluk-guluk ini, menetap di desa Karangharjo, Silo, setelah beberapa kali menjajaki usaha perdagangan di pulau Jawa. Namun, alih-alih berhasil menjadi pedagang, ia justru dipercaya oleh masyarakat untuk berdakwah dan mengajarkan agama kepada mereka. Oleh K.H. Abdul Wali, seorang tokoh agama di desa Karangharjo yang juga pengelola Masjid Jami al-Baitul Amin, Kiai Syamsul Arifin diminta untuk menetap dan ikut membantunya dalam mengelola kegiatan keagamaan di masjid jami.

Di tahun-tahun pertamanya, Kiai Syamsul Arifin mengajar para santri dengan metode pengajaran sederhana. Ia membimbing para santri di langgar dengan metode halaqah, wetonan dan sorogan. Ia biasanya mengajar kitab Sullam al-Taufiq karya Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani dan Bidayat al-Hidayah oleh Imam al-Ghazali. Ia juga memanfaatkan kesenian dan kegiatan budaya sebagai alat untuk mendakwahkan Islam ke masyarakat. Antara lain, ia berdakwah melalui seni macopat dan seni beladiri khas Madura yang disebut pencak silat. Sebelum kedatangan Kiai Syamsul Arifin, desa Karangharjo dikenal sebagai desa para jago atau jawara yang gemar mengintimidasi dan melakukan kekerasan terhadap masyarakat kecil. Carok dan perkelahian merupakan peristiwa sehari-hari pada waktu itu. Kiai Syamsul Arifin menaklukkan mereka dan menanamkan nilai-nilai keagamaan dan akhlak Islam kepada mereka. Memang, kebanyakan santri awal Kiai Syamsul Arifin adalah mantan jawara yang telah insaf dan memilih jalan hidup yang lurus.

Ajaran Kiai Syamsul Arifin mungkin dapat disederhanakan dalam konsep khidmah, pengabdian secara total terhadap guru. Kepada putera-puteri dan santri-santrinya, ia selalu bercerita bahwa ia mondok ke Pesantren Annuqayah dengan hanya membawa sapu dan sabit untuk membersihkan dan merapikan lingkungan pesantren. Ia selalu menyiapkan diri untuk berkhidmat melakukan apapun untuk mengabdi kepada guru dan pesantren. Menurutnya, ilmu dan amal merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Pengetahuan sejati tidak akan mungkin diraih tanpa amaliah keseharian; dan amal yang barakah tidak akan mungkin diraih tanpa dilandasi oleh pengetahuan yang mendalam tentang agama.

Kiai Syamsul Arifin memiliki tiga orang istri dan dari mereka, ia mendapatkan 14 orang anak. Namun, di antara mereka hanya dua orang yang diyakini mewarisi pengetahuan dan bakat kepemimpinan Kiai Syamsul Arifin, yaitu K.H. Muhammad Jauhari dan K. Ahmad Zaini. Bahkan sejak tahun 1965, setelah menyelesaikan pendidikannya di Annuqayah, Kiai Jauhari sudah memulai melakukan pembaruan dan modernisasi terhadap sistem pendidikan di Pesantren al-Falah. Ia antara lain merintis sistem pendidikan klasikal dengan mendirikan Madrasah Darul Ulum, untuk melengkapi pola pengajaran halaqah. Baru pada tanggal 15 Agustus 1969, ia kemudian mengubah nama madrasah tersebut menjadi Madrasah al-Falah, yang untuk selanjutnya resmi menjadi nama pesantren. Dalam madrasah ini, materi pelajaran yang diajarkan tidak semata difokuskan pada disiplin-disiplin keislaman tradisional seperti fikih, ilmu tauhid, atau akhlak, akan tetapi juga materi pelajaran umum seperti matematika atau bahasa Inggris. Adapun sistem pengajaran yang ia gunakan, meskipun tetap mempertahankan pengajian kitab kuning dengan pola wetonan dan sorogan, juga dilaksanakan diskusi-diskusi ilmiah dan bahtsul masa’il yang membahas isu-isu kontemporer.

Kiai Syamsul Arifin meninggal dunia pada tahun 1980, dalam usia lanjut, yaitu 82 atau 84 tahun. Kepemimpinan pesantren segara diambil alih kedua puteranya, Kiai Jauhari dan Kiai Zaini. Keduanya memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda namun saling melengkapi. Kiai Jauhari lebih banyak berkecimpung dalam bidang kepesantrenan dan kemadrasahan sementara Kiai Zaini lebih banyak aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, seni dan dakwah. Ia, misalnya, mempopulerkan seni hadrah melalui kegiatan rutin mingguan yang diselingi dengan dakwah dan pengajian. Kiai Jauhari, sementara itu, aktif mengajar di madrasah.

Dalam soal pendidikan dan ibadah, Kiai Jauhari menekankan elemen istiqamah. Menurutnya, kualitas keilmuan dan ibadah tidak ditentukan oleh seberapa banyak seorang Muslim belajar atau beribadah, akan tetapi ditentukan oleh seberapa konsisten dan istiqamah ia mengamalkan ibadah dan pengetahuannya. Baginya, kegiatan ibadah dan belajar yang sederhana dan remeh-temeh namun istiqamah adalah jauh lebih bernilai daripada amaliah yang kelihatannya luar biasa dan akbar namun tidak dapat ditekuni secara istiqamah.

Pada bulan Desember 1993, dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, K. Ahmad Zaini meninggal dunia pada tanggal 21 Desember, yang disusul kemudian dengan K.H. Muhammad Jauhari di tanggal 28 Desember. Karena kevakuman kepemimpinan, K.H. Ahmad Basyir AS kemudian menunjuk K.H. Abdul Muqiet Arief sebagai pengasuh.

Adalah Kiai Muqiet Arief yang kemudian memperbarui sistem pendidikan di Pesantren al-Falah dengan memisahkan pendidikan agama dan umum dalam lembaga pendidikan yang terpisah. Ia merintis pendirian SMP dan SMA al-Falah sebagai lembaga pendidikan umum dan Madrasah Diniyah Ula dan Wustha sebagai tempat pendidikan keagamaan. Kiai yang semasa nyantri di Pesantren Annuqayah berkiprah di BPM Annuqayah ini juga aktif dalam kegiatan sosial dan lingkungan. Ia misalnya membantu masyarakat memodernisasi diri dengan memperbaiki infrastruktur desa. Bekerja sama dengan Perhutani, ia juga berikhtiar menjaga hutan lindung agar tidak dirusak oleh penebangan liar dan melakukan reboisasi. Kiai Muqiet Arief juga aktif dalam kerjasama dan pembinaan kerukunan antarumat beragama dengan menjadi pengurus Forum Komunikasi antar-Umat Beragama (FKUB) Jember. Salah satu terobosannya yang menarik adalah ketika ia mengajak para santri Pesantren al-Falah dan siswa-siswa SMA Katolik Santo Paulus Jember bahu-membahu melaksanakan kegiatan reboisasi di kawasan hutan lindung di pinggiran desa Harjomulyo.

Bagi Kiai Muqiet Arief, dikotomi amaliah Muslim menjadi dua kutub, ibadah dan muamalah, adalah perlu namun tidak memiliki signifikansi penting bila ditilik dari sisi niat atau tujuan. Menurutnya, segala bentuk kegiatan sosial atau muamalat juga merupakan wujud ibadah atau pengabdian setiap Muslim kepada Allah. Mengutip Ta‘lim al-Muta‘allim karya al-Zarnuji, ia menyatakan bahwa banyak amaliah yang secara lahiriah bersifat ukhrawi namun terhitung sebagai amalan duniawi karena niat yang salah. Sebaliknya, banyak pula amalan-amalan yang secara lahiriah bersifat duniawi akan tetapi dihitung sebagai amalan akhirat karena niat yang benar dan tulus. Dengan perspektif ini, ia mengajak kaum santri dan segenap elemen pesantren untuk aktif dalam aktivitas-aktivitas sosial dan kebangsaan.

Dalam usianya yang menjelang 80 tahun, Pesantren al-Falah kini telah mendidik 800-an santri aktif dengan para alumninya yang aktif di pelbagai lembaga pendidikan dan sosial, terutama di wilayah kabupaten Jember dan Banyuwangi. Banyak para alumni al-Falah yang setelah kembali ke kampung halaman aktif di kegiatan pendidikan dengan mendirikan pesantren atau madrasah.

Penulis: Muhammad Ma’mun dan Maimunah Jauhari